Seperti biasa aku pulang berjalan kaki melewati gang sempit ini. Tidak ada yang mencuri pandangku, hanya dua kucing yang sedang kawin. Aku sudah sering melihat itu dari jendela kamarku. Entah kenapa atap rumah tetanggaku menjadi spot favorit kucing berkawin. Tidak kenal waktu, siang, sore, malam, bahkan pagi. Sudah dua blok gedung kulewati, tapi abang cimol yang biasa mangkal di depan toserba 9-Eleven belum muncul juga. Apakah dia meliburkan diri? Kudengar besok adalah hari peternak. Mungkin saja abang cimol juga peternak lele. Daripada menanti ketidakpastian, aku masuk ke dalam 9-Eleven membeli kopi dingin. Biasa, untuk meredakan stres temporer, dibutuhkan asupan kopi dingin yang cukup. Kalau panas? Itu untuk menikmati bacaan saat senja. Apalagi ditambah hujan, lalu rindu tiba-tiba berlabuh. Lengkap sudah, rindu kehujanan kopi di saat senja.

     Belum saja membuka pintu kaca bertuliskan pull—push yang sebenarnya bisa aku dorong atau tarik dari kedua sisi, seorang pengemis tua—atau saudara si abang cimol, wajahnya lumayan sama saat pandangan pertama—memberi kode padaku. Aku tidak tahu pastinya, apakah kode atau dia sedang merentangkan jemari setelah sekian lama menggunakannya (untuk mengemis atau membantu membuat bola-bola cimol).

     Dia memberiku secarik kertas. Tanpa sempat mengucapkan sepatah kata, dia menghilang. Aku tidak perlu bingung dengan kejadian itu. Seseorang menghilang setelah memberikan sesuatu pada pejalan kaki di gang sempit adalah hal yang lumrah di film-film dan novel, ataupun sinetron. Yang perlu kulakukan sekarang adalah membuka kertas tersebut. Apakah di rumah atau di sini? Kemungkinan kalau aku membuka di sini adalah: kertas itu bertuliskan kematian atau hal yang sejenis, lalu aku tiba-tiba diculik oleh teman dari orang yang memberiku kertas ini. Petualangan misterius akan menantiku. Kemungkinan lain, ketika kertas ini terbuka, muncul alamat atau kode angka, atau koordinat yang menuntunku pada suatu tempat rahasia. Di sana ada penjahat, mafia, dan sindikat jalanan. Lalu aku bersama seseorang tak dikenal yang kutemui di jalan akan menumpas rencana jahat mereka. Pengalaman seru juga akan menantiku.

     Lain cerita ketika aku membukanya di rumah. Kertas ini bertuliskan sesuatu yang mengancam diriku dan keluargaku. Sesaat setelah kertas ini dibuka, telpon berdering. Mamaku diculik dan mereka meminta tebusan dalam jumlah besar. Saat aku kebingungan dengan apa yang terjadi, Papa tiba-tiba mengirimkan pesan bahwa adikku sedang dibawa ke tempat antah berantah, dan Papa disekap di ruang bawah tanah. Diriku yang diliputi bingung dan takut, mendadak dirundung hawa negatif. Tidak bisa menguasai emosiku sendiri, depresi menanti, aku menjerit. Beberapa meter dari tempat tidurku, terdapat pisau yang sempat aku gunakan untuk memotong semanga kemarin Selasa. Di sinilah aku memilih, bunuh diri atau menjadi pahlawan. Ketika pisau kecil kugapai, tangan kiriku dengan cepat menyambar leher mungil ini. Tidak main sakitnya. Darah berceceran. Aku tidak sadarkan diri sebelum sempat melihat seberapa banyak darah yang tumpah. Cerita selesai. Sementara itu, keluargaku masih menderita. Mungkin aku mencoba menggapai pisau itu dan lekas meninggalkan kamarku. Aku berlari menuruni tangga, mendobrak pintu depan dan menyalakan motor ayahku. Dengan gaya a la Kaneda yang bersepeda melintasi jalanan Neo Tokyo, kuambil jaket merah adikku. Pisau kecil itu kugigit dengan kuat. Dengan kecepatan penuh aku melaju, tapi ke mana? Aku lupa menambahkan scene ketika mereka mengirimkan koordinat itu padaku. Jalan besar tampak kecil. Mobil-mobil mengecil. Waktu memendek. Kesadaranku melampaui tubuh fisikku. Sekali lagi aku memacu motor pada kecepatan maksimal. Berkelok-kelok seperti Kaneda mengejar Tetsuo atau sebaliknya, sampailah aku di pinggir kota. Di depan sungai urban hitam busuk, jembatan kecil menghampiri. Dunia menjadi kecil. Jembatan semakin dekat padaku. Pukul 23.00, dan kini aku berada di atas jembatan. Tiga orang melambaikan tangan di gedung depan sungai ini. Lantai empat tepatnya, tapi aku pusing setengah mati. Betul saja, ada seseorang bertopeng hitam di belakangku. Suntikan maut. Ah.

     Aku sadar. Lampu putih tidak begitu terang. Dua manusia berbaju hijau mendekati tubuhku. Perih, hanya itu perasaanku sekarang. Dia berbicara, tapi aku tak dapat mendengarnya. Dibiarkan aku telentang, telanjang. Menengok ke kanan, pria bertopeng hitam tersenyum, atau topengnya yang tersenyum? Aku tidak tahu. Pandangan ini buram. Dua manusia berbaju hijau yang baru-baru ini aku ketahui adalah dokter bedah (maklum, aku belum pernah masuk rumah sakit satu kali pun) kembali mendekatiku lagi. Sekarang dia memakaikan selimut abu-abu. Aku mencoba menggapai jaket merah adikku di atas meja di sampingku. HP ku jatuh. Dokter mengambilnya, dan memberikannya padaku. Baru kusadari bahwa SMS mereka menunjukkan koordinat yang sama dengan kertas yang aku buka di depan 9-Eleven. Inikah pengalaman seru yang kutuju?

     Andai saja aku membukanya di depan 9-Eleven, akan ada seseorang asing yang kutemui di jalan. Dia memakai motor hijau, berjaket hijau. Pria yang cukup tampan. Aku berhenti di simpang gedung apartemen berlantai 20 karena gang motor yang bertengger di tengah jalan. Pria berjaket hijau menyapaku dengan ramah. Aku menjawab singkat. Dia terlihat marah, sebentar saja di memanggil anak buahnya. Gadis kecil dengan rok merah muda. Terlihat manis, membawa boneka mungil. Wajahnya selalu menunduk ke bawah, apakah murung atau memang dia senang melihat bumi? Belum ada tiga menit, pria berjaket hijau menepuk pundakku. Mesin dinyalakan, barisan motor melaju kencang. Aku tepat di sampingnya. Auranya misterius, tapi sekaligus menenangkan. Jangan-jangan aku suka dengan dia. Mengenai itu, aku ceritakan di lain waktu saja.

     Secara serempak kami memarkirkan motor di atas jembatan sungai yang busuk. Pria berbaju hijau mendobrak gedung di depan jembatan itu. Mendobrak kaca dan jendela dengan pemukul bisbol. Dua penjaga terkapar, satu kabur ke lantai atas melewati tangga. Pria bertopeng hitam menyelinap melewati tirau biru di ruangan samping. Aku mengejarnya, tetapi si pria berjaket hijau melarangku. Dia menarik ujung jaketku. Sambil mengacungkan jari telunjuk, dia berkata jangan dengan pelan. Aku menuruti saja. Dia berhenti, membungkuk, mengambil HP dan mengirim pesan pada anak buahnya. Sekarang muncul lima lelaki gagah dari arah timur dengan motornya. Pria berbaju hijau menyuruh mereka menangkap si topeng hitam. Aku meneguk ludah. Dari lantai dua terjadi ledakan cukup serius. Gadis kecil dengan rok merah muda berlari ke arah pria berjaket hijau, memberi arahan untuk keluar dari gedung. Dia langsung menurut saja. Apa gadis cilik ini seorang cenayang? Kami bergegas keluar gedung. Benar saja. Gedung ini runtuh. Fondasinya tidak kuat, katanya sih umurnya sudah cukup tua. Aku mengambil binokular dari tas selempang. Si topeng hitam berlari melewati jalan kecil di samping gedung. Semua mengejar, termasuk aku. Namun tidak aku sangka, si topeng hitam datang dari samping kanan. Aku dibekapnya dengan kuat, tiada aku dapat meronta. Mereka terus saja berlari menuju gang kecil itu. Tapi tidak dengan si gadis kecil. Dia ketakutan. Apakah harus menyusul kelompoknya atau menyelamatkanku? Pilihan yang susah untuknya.

     Dari reruntuhan gedung, salah satu dari pria gagah yang datang belakangan terlihat memar. Dia menuntun gadis kecil untuk pergi menyusul kelompok. Tapi si gadis kecil diam, terbata-bata ingin mengucapkan sesuatu. Jari kecilnya menunjuk ke arahku. Si pria gagah mengacuhkannya. Mata gadis kecil menangis, mukanya sedih. Dia melambaikan tangan padaku. Belum selesai ia melambai, aku tak sadarkan diri.

     Kini aku berada di ruangan kecil, terlentang di atas kasur dengan selimut abu-abu. Dua manusia berbaju hijau mendekatiku. Ternyata sama saja. Aku tidak menemukan orang tuaku dan adikku. Aku hanya terbaring tak berdaya. Sedikit kugerakkan tangan kananku untuk menggapai jaket merah di atas meja di samping kiri kasur. Secarik kertas jatuh ke lantai. Manusia berbaju hijau mengambilnya, sambil membawakanku air minum. Kubaca pelan-pelan:

            Jalan Ahmad Yani nomor 23, Kedungpring, Swahili.

Pengemis tua memanggilku.

            “Nak, tahu alamat ini?”

Aku terbangun.

            “Maaf, saya tidak tahu pak.”

Aku melanjutkan perjalanan pulang sambil meminum kopi dingin.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s