Seorang kakek mendadak menyapaku. Aku belum sempat menyeruput es kopi yang sedang kupegang dengan tangan kanan. Begitu pula dengan pesan masuk yang sudah lima belas menit belum dibuka.

“Ingatkah kamu dengan peristiwa lima puluh tahun silam?”

Sekarang kakek itu berbicara. Aku tidak merasa sedang diajak mengobrol olehnya, tetapi fakta bahwa hanya aku seorang di taman ini membuatku meminum empat teguk es kopi.

“Haryo. Dia temanku. Mahir membuat kopi dan layangan. Larinya juga cepat. Dia pernah tersandung batu, tetapi aku tidak tertawa. Tahu kenapa?”

Aku hanya terdiam. Aku ingin mengkonfirmasi apakah kakek itu berbicara denganku atau sekedar berlatih drama. Konfirmasi berjalan alot. Kakek itu membuka tas punggungnya. Artinya, kepalanya sedang menunduk. Jelas tidak sopan bila aku ikutan menunduk dan tiba-tiba mengkonfirmasi status dari obrolan ini.

Tidak perlu. Kakek itu bangkit dan memberikan aku kertas.

“Ini yang bernama Haryo. Sedangkan ini saya ketika masih muda. Coba kamu tebak, lebih tampan mana?”

“Haryo, Kek.”

“Seleramu bagus anak muda. Sekarang kakek akan lanjutkan peristiwa empat puluh tahun silam. Begini …”

Gawat. Setengah jam lagi kelas akan dimulai dan cerita yang diklaim seru datang menyambut. Teringat lima tahun lalu di rumah Joni, enam puluh komik Jepang aku baca. Benar, memang seru komik itu. Oh. Kamu bertanya apa korelasinya? Begini. Jika cerita kakek diklaim sebagai cerita “seru”, ada kemungkinan cerita tersebut sepanjang komik yang aku baca di rumah Joni. Artian lain: sangat lama, sangat-sangat lama sekali.

Sialnya, kakek ini juga ramah. Aku tidak tega membiarkan kakek mendongeng sendirian, membuatnya menyimpan cerita-ceritanya. Namun, setelah aku pikir, cerita kakek mungkin dapat menginspirasiku membuat novel atau cerpen. Baiklah, tiga puluh menit tidak kurang tidak lebih. Setelah itu, aku akan menegur kakek dengan sopan untuk menghentikan.

“Lima teman kakek ditembak mati.”

Aku meneguk ludah. Belum ada dua menit aku tidak memperhatikan kakek berbicara karena menyusun strategi metode interupsi, cerita mendadak serius.

“Empat di antaranya diperkosa secara bergiliran oleh tentara …”

“Tentara apa?”

“Tentara Mars. Xulu adalah komandannya, Zulu anak buahnya. Mereka berdua memiliki ketertarikan seksual yang tinggi pada manusia, terutama wanita. Syukurlah empat teman kakek bisa melawan mereka berdua.”

“Lalu bagaimana empat kakek bisa mati? Maksudku, teman kakek diculik alien?”

“Bukan alien anak muda. Tetapi serdadu Mars. Kamu bertanya bagaimana empat teman kakek mati? Dia ditembak mati. Kakek kan sudah bilang tadi. Bedanya, dia ditembak mati oleh banyak serdadu.”

“Karena melakukan tindak kriminal?”

“Bukan, karena memakan kacang.”

“Saya tidak paham, Kek.”

“Kacang itu milik ayah kakek. Dia menyimpannya untuk persembahan Raja Majapahit. Suatu malam, kacang itu dicuri. Ujung-ujungnya perwira Majapahit marah dan menyuruh semua serdadu mencari pencuri kacang itu.”

“Majapahit sudah hancur enam ratus tahun silam kek.”

“Itu bagian menariknya. Kakek juga kurang paham. Intinya teman kakek ketahuan mencuri kacang.”

“Asumsikan benar bahwa serdadu Majapahit yang membunuh teman kakek. Bagaimana serdadu itu menembak? Bukankah zaman Majapahit tidak ada senjata api?”

“Anak muda, berpikirlah yang luas. Serdadu itu meminjam dari polisi. Bukan. Serdadu itu menghajar polisi dan merebutnya. Ia mengira pistol dan senapan adalah tongkat sakti. Hal itu diwartakan dalam kitab suci Mugiwaras.”

“Saya tidak memahami semua ini kek. Apakah ini nyata atau hanya pengulangan dari entah novel apa yang pernah kakek baca?”

“Semua ini nyata anak muda. Kembali saja ke empat puluh tahun silam. Waktu itu serdadu Majapahit mendapat tekanan dari para anggota korps perdamaian PBB.”

“Apa?”

“Dua puluh terkena tembakan peluru. Sayang, tiga meleset. Kakek melihat sendiri dari bukit tempat John, serdadu Amerika menginap. Dia bertugas di sini dan memberikan kakek kenang-kenangan manis. Kamu mau melihatnya?”

“Mau, Kek. Aku ingin melihat bukti.”

Kakek itu menunjukkan gelang dan anting emas. Dua kantung plastik kecil berisi serbuk putih. Mungkin krimer nabati. Lalu, ada sebundel uang dolar. Aku tidak menyangka kakek ini sedang tidak bercanda.”

“Lantas, kamu pasti ingin bertanya. Apa hubungan ini semua?”

“Betul!”

“Tulis nomor teleponmu di kertas ini. Kakek akan menghubungimu nanti. Kakek terburu-buru, sudah dijemput.”

Dia meninggalkanku bersama dengan barang-barang pemberian John. Sebuah jip hitam dengan cepat menyambar tubuh kakek. Dia bahkan tidak sempat mengucapkan salam, tetapi masih sempat menggoyangkan telapak tangannya padaku.

***

       Aku berlari menuju kelas. Lima menit lagi atau aku akan telat kuliah. Dasar kakek misterius. Ceritanya gila. Aku penasaran, apakah kakek itu benar-benar gila? Misalnya kabur dari rumah sakit jiwa. Jip hitam itu adalah mobil milik sekuriti atau dokter jaga. Boleh jadi.

Boleh jadi salah juga. Sebab lima polisi di depanku. Dua mobil dan satu motor gede berjejer rapi. Bukan lima, maaf. Tetapi sembilan! Empat di belakangku. Apakah ini berhubungan dengan kakek misterius itu? Tuhan, aku hanya ingin cepat duduk di bangku kelas dan absen tepat waktu. Kau tahu, jatah bolosku telah habis dipakai!

“Mas, ini barang milik siapa ya?” sambil menunjuk pemberian John.

“Ini dari kakek aneh yang baru saja saya temui Pak. Katanya ini dari Amerika.”

“Kamu saya tahan ya.”

“Saya salah apa Pak? Ini barang curian? Barang ilegal? Saya berani bersumpah demi Tuhan bahwa kakek aneh tadi menitipkan barang ini pada saya!”

“Bukan.”

“Jadi apa dong?”

“Sebab kamu keturunan serdadu Majapahit. Moyangmu itu telah merebut senjata kami, dan menghajar ratusan aparat kami. Kau tahu itu?”

“Saya tidak tahu Pak. Semua penjelasan kakek tadi dan penjelasan bapak sungguh absurd. Saya tidak bisa memahami semua ini!”

“Baiklah. Kami pergi dulu. Ternyata saya salah tangkap.”

Bapak itu masuk ke mobil polisi. Sebelum dia pergi, jendela dibuka dan kepala mencuat sambil tangan kanannya diangkat.

“Kamu penasaran siapa kakek tadi?”

“Betul pak.”

“Ke sini sebentar,” seru bapak itu. Dia menyuruhku untuk mendekatinya dan memberikanku selembar kertas serta pulpen.

“Tulis nomor teleponmu, nanti aku akan hubungi.”

Polisi-polisi itu dengan cepat menghilang. Sekarang waktuku tersisa tiga puluh detik. Aku sampai di ruang kelas tepat pukul tujuh pagi.

Kelas kosong.

Aku salah kelas.


Sumber gambar: http://azmidiske.deviantart.com/art/Old-Man-Telling-a-Story-81558455

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s