Tulisan ini adalah bagian dari “Seri Pengantar Filsafat untuk Pemula “Membumikan Filsafat” — Chapter 01: Sebelum Menjawab Apa itu Filsafat, Kita Perlu Menjawab “Apa itu”: Sebuah Pengantar Mengenai Definisi dari Definisi”

Banyak pertanyaan yang ditanyakan tetapi sedikit jawaban yang memuaskan. Tak memuaskan di sini memiliki artian bahwa jawaban dari pertanyaan-pertanyaan tersebut melenceng dari maksud yang ditanyakan di dalam pertanyaan, atau tidak memberikan informasi yang cukup untuk membedakan jawaban antara pertanyaan yang sedang ditanyakan (misalnya pertanyaan A) dengan pertanyaan lain (misalnya pertanyaan B), sehingga jawaban dari pertanyaan A tidak memiliki sifat kekhasan yang membedakannya dari pertanyaan B, sehingga tidak ada pengetahuan baru yang didapat, atau bahkan terdapat kesalahan fatal dari pengetahuan yang didapat dari jawaban pertanyaan dengan karakteristik deskripsi di atas.

Marilah kita menelisik maksud dari paragraf di atas. Misalkan Andi bertanya pada Budi, “apa itu kucing?” Budi menjawab, “hewan berkaki empat yang memiliki taring dan makan daging.” Andi bertanya lagi pada Budi, “apa itu anjing?” Budi menjawab hal yang sama. Andi kebingungan dengan jawaban Budi. Ia bertanya lagi, “lalu apa beda kucing dengan anjing?”

Contoh di atas mungkin terlihat lucu dan bodoh. Bagaimana mungkin Budi sebodoh itu sampai-sampai tidak bisa membedakan anjing dengan kucing. Namun, bukankah kita juga begitu? Mulai dari contoh yang cukup “bodoh” yaitu ketidaktahuan (yang entah kenapa dipamer-pamerkan dengan bangganya) dalam mengenal beberapa ideologi, seperti dalam sebuah demonstrasi di ibu kota waktu lalu yang menyatakan bahwa komunisme adalah liberalisme, atau yang lebih parah, komunisme adalah kapitalisme, hingga perkara-perkara pelik yang membingungkan pikiran ketika ditanya lebih lanjut apa perbedaan dari kebahagiaan dengan kesenangan dan kepuasan, apa perbedaan antara keadilan dan kebaikan, dan lain sebagainya.

Apa sebenarnya yang hilang dari diri kita, dari nalar kita? Apa sebenarnya yang membuat semua persoalan ini berantakan? Mengapa banyak orang berselisih?


Jika ditanyakan, “apa itu kebahagiaan?” lalu dijawablah, “kebahagiaan adalah sesuatu yang membuat bahagia.”

Kemudian ditanyakan lagi, “lalu, apa itu bahagia?” Dijawablah dengan “bahagia adalah sesuatu yang memberikan kesenangan, kepuasan, dan kelegaan hati, kelapangan pikiran, dan kesehatan batin.”

Ia bertanya lagi, “jadi bahagia harus senang, puas, lega, lapang, dan sehat batinnya?” Ia menjawab, “betul.”

“Jika aku senang tetapi tidak puas, apakah aku bahagia?”

“Mungkin tidak.”

“Misalnya aku sedang mencari ikan di laut. Aku mematok target mendapat dua ekor tuna. Namun, hanya mendapatkan dua ekor ikan tenggiri saja. Aku tidak puas, tapi aku senang sebab daripada tidak mendapatkan apa-apa, lebih baik bersyukur dengan apa yang tidak aku miliki. Apakah aku bahagia?”

“Iya, kamu bahagia.”

“Lalu kenapa kamu menjawab tidak tadi?”

“Aku tidak yakin.”

“Baiklah, berarti bahagia boleh senang tapi tidak puas, kan?”

“Benar”

“Lalu apa bedanya senang dengan bahagia?”

“Aku kira itu sinonim.”

Ia bertanya lagi, “lalu apa itu senang?”

Ia diam sejenak, kemudian menjawab, “senang adalah sesuatu yang diliputi rasa puas, lega, dan dapat meningkatkan gairah hidup seseorang.”

“Saya mengonsumsi heroin sehingga senang dan lega, lalu makan amfetamin sehingga bergairah. Apakah saya bahagia?”

“Secara temporer mungkin iya, tapi aku tak yakin…”

“Misalnya aku sedang berbahagia sebab istriku melahirkan anak pertamaku dan seluruh keluargaku berkumpul memberikan selamat. Tentu saja kejadian istriku melahirkan anakku dan seluruh keluargaku berkumpul adalah kejadian yang temporer dan tidak terjadi selamanya, karena tidak mungkin istriku melahirkan selamanya. Dia melahirkan hari Senin minggu lalu. Kesimpulannya, aku berbahagia secara temporer sebab kejadian di atas juga secara temporer.”

“Ah benar!”

“Bahagia secara temporer termasuk bahagia, bukan?”

“Benar!”

“Tapi tadi kamu berkata yang mendekati ke arah tidak, atau setidaknya kamu tidak yakin atas jawabanmu sendiri. Orang yang mengonsumsi narkoba hanya tidak bahagia karena kebahagiaannya temporer.”

“Berarti orang yang mengonsumsi narkoba bahagia.”

“Akan tetapi, 64,070 manusia meninggal pada tahun 2016 di USA karena kecanduan narkoba1. Ditambah lagi dengan perilaku pecandu narkoba yang sering membahayakan nyawanya sendiri dengan overdosis narkoba yang berujung pada kematian, ketergantungan berlebih, depresi, hingga anxiety. Ini tidak terlihat membahagiakan dalam pandanganku.”

“Betul juga, mereka tidak bahagia.”

“Lalu, kenapa kamu berujar bahwa pengonsumsi narkoba bahagia?”

“Mungkin pada dosis tertentu dan dalam jangka waktu tertentu, pengonsumsi narkoba bisa bahagia. Kau tahu kan, tidak semua pengonsumsi narkoba adalah pecandu berat yang berujung pada kematian?”

“Hmm, kau benar. Akan tetapi, pecandu narkoba juga mengonsumsi narkoba, kan?”

“Iya.”

“Lalu, kenapa kamu berujar bahwa pengonsumsi narkoba bahagia? Kan tidak semuanya bahagia.”

“Betul juga.”

Ngomong-ngomong, mengapa kamu berujar bahwa bahagia perlu atribut lainnya?”

“Apa maksudmu?”

“Tadi kamu berujar bahwa bahagia adalah sesuatu yang memberikan kesenangan, kepuasan, dan kelegaan hati, kelapangan pikiran, dan kesehatan batin. Aku tidak yakin orang yang mengonsumsi narkoba hatinya lega, pikirannya lapang, dan batinnya sehat.”

“Apa kamu pernah mengonsumsi narkoba?”

“Tidak.”

“Siapa tahu hatinya lega, pikirannya lapang, dan batinnya sehat.”

“Siapa tahu tidak. Baiklah, jika aku merasa senang ketika aku mengerjakan persoalan matematika yang membuat pikiranku suntuk dan jenuh serta hatiku menjerit, apa aku bahagia?”

“Bagaimana kau bisa bahagia di saat seperti itu?”

“Saya suka menyelesaikan persoalan matematika. Dan kau tahu, itu sangat susah dan membuat kepalamu meledak.”

“Berarti kau tidak bahagia.”

“Tetapi di suatu saat aku mengerjakan persoalan matematika ketika aku depresi dan gundah gulana ketika orang tuaku meninggal.”

“Mungkin kamu bahagia.”

“Tetapi tidak perlu atribut hatinya lega, pikirannya lapang, dan batinnya sehat, kan?”

“Bisa jadi.”

“Lalu apa itu kebahagiaan? Apa itu bahagia?”

“Suka-suka kau lah! Aku lagi lapar, mau makan dulu. Bahagia itu ketika perut kenyang.”

“Aku tidak perlu memberikan counterargument untuk jawabanmu, meskipun aku bisa. Baiklah, mau ke Sadikin?”

“Boleh.”


Banyak dari perselisihan di dunia ini berawal dari kesalahan bernalar, dan sebagian dari kesalahan itu adalah ketidakmampuan menciptakan sebuah makna dari suatu istilah yang disepakati bersama oleh kedua belah pihak. Ketidakmampuan ini membatasi dua pihak untuk saling bertukar pendapat dan pikiran. Alih-alih berdiskusi secara hangat, dua pihak ini bisa saja saling membunuh hanya karena perbedaan makna dari suatu kata yang sedang mereka diskusikan atau bahas.

Misalnya, ketika dua orang berdiskusi mengenai hukum  parkir sembarangan di badan jalan. A yang sedang berhenti menunggu temannya di badan jalan tiba-tiba didatangi oleh si B yang kebetulan adalah seorang polisi yang sedang berjaga. B berniat menilang si A. Namun, A mengelak. Ia menyatakan bahwa ia tidak parkir, hanya berhenti saja. “Toh, mesin saya sedang nyala kok Pak!” ujar A. B tidak ketinggalan membantah. Ia berpendapat bahwa parkir itu sama saja dengan berhenti. A jelas tidak terima. Berhenti dan pakir itu berbeda. Kalau berhenti dan parkir adalah hal yang sama, mengapa in the first place, terdapat dua kata “berhenti” dan “parkir”? Mengapa tidak ada tempat berhenti, adanya cuma tempar parkir. Kenapa pula tidak ada pekerjaan “juru berhenti”? Kenapa cuma ada “juru parkir”. A mematahkan argumen B, tetapi B tidak kalah. Ia tetap menilang A dan si A melaporkan kelakuan B ke kantor polisi terdekat.

Terlihat kan maksud saya mengenai “ketidakmampuan menciptakan makna dari suatu istilah yang disepakati dua pihak dapat berujung pada kebinasaan.” Oleh karena itu, di sini, saya akan membahas mengenai masalah tersebut.

Tersebutlah Andi dan Budi sedang berdiskusi mengenai arti dari bahagia dan kebahagiaan. Andi melayangkan banyak pertanyaan terhadap definisi yang Budi berikan. Mereka berdua belum sepakat dalam mendefinisikan kebahagiaan. Namun, dialog mereka berdua telah mengajari kita bagaimana cara menciptakan definisi yang baik.

Yang pertama, definisi haruslah membedakan dan membatasi. Definisi yang baik haruslah dapat membedakan antara “kucing” dan “anjing” ketika kita hendak mendefinisikan anjing atau kucing. Alasannya apa? Agar kita dapat mengidentifikasi anjing secara tepat, bukannya kucing. Karena jika tidak, kita akan selalu menyebut semua hewan yang anjing dan kucing sebagai “kucing”, misalnya ketika kita mencoba mendefinisikan kucing dengan baik sehingga anjing pun termasuk ke dalam definisi kucing.

Membatasi di sini adalah memberikan batas dari definisi tersebut agar hanya mencakup pada benda yang sedang kita definisikan.  Batasan dari definisi dapat ditempuh dengan jalan berdialog (dalam artian berargumen), seperti pada permisalan dialog Andi dan Budi mengenai kebahagiaan. Awalnya, Budi memberikan definisi kebahagiaan, misalnya x. Andi lalu merevisi dan mempertanyakan batasan-batasan dari definisi Budi, sehingga definisi Budi tidak overlap dengan definisi dari sesuatu lain yang bukan topik pembicaraan, sehingga definisi Budi direvisi menjadi, misalnya x’. Berdialog, merevisi argumen sebelumnya, dan berdialog lagi, dan seterusnya adalah metode yang dikenal dengan metode Sokratik.

Sebagai contoh, coba perhatikan kembali bagian dialog Andi dan Budi ketika Andi sedang mempertanyakan definisi Budi dengan sebuah permisalan sehingga Budi menyalahi dirinya sendiri dan mengubah (mempersempit) definisinya mengenai kebahagiaan.

Ia bertanya lagi, “jadi bahagia harus senang, puas, lega, lapang, dan sehat batinnya?” Ia menjawab, “betul.”

“Jika aku senang tetapi tidak puas, apakah aku bahagia?”

“Mungkin tidak.”

“Misalnya aku sedang mencari ikan di laut. Aku mematok target mendapat dua ekor tuna. Namun, hanya mendapatkan dua ekor ikan tenggiri saja. Aku tidak puas, tapi aku senang sebab daripada tidak mendapatkan apa-apa, lebih baik bersyukur dengan apa yang tidak aku miliki. Apakah aku bahagia?”

“Iya, kamu bahagia.”

Awalnya Budi menjelaskan bahwa definisi dari bahagia adalah sesuatu yang memberikan kesenangan, kepuasan, dan kelegaan hati, kelapangan pikiran, dan kesehatan batin. Pada definisi tersebut, Budi memakai kata “dan” yang memiliki makna konjungsi. Konjungsi benar ketika kedua benda yang sedang dikonjungsikan terpenuhi. Misalnya, Ibu saya menyuruh saya membeli garam dan gula di pasar. Kemudian, saya hanya membeli garam saja, padahal tadi di pasar ada gula. Tentu ibu saya marah karena yang dimaksud adalah garam dan gula. Dua hal tersebut (yakni garam dan gula) harus dimunculkan secara bersamaan, bukannya dipilih salah satu. Masalah dari definisi Budi terletak di sini. “Sesuatu yang memberikan kesenangan, kepuasan, dan kelegaan hati, kelapangan pikiran, dan kesehatan batin” bermakna konjungsi. Definisi bahagia menurut budi kemudian menjadi:

Bahagia := kesenangan DAN kepuasan DAN kelegaan hati DAN kelapangan pikiran DAN kesehatan batin

Andi menanyakan ke Budi mengenai “senang dan puas” dalam definisi bahagia. Jika Andi berhasil membuktikan bahwa seseorang yang bahagia bisa saja senang tetapi tidak puas, runtuhlah definisi Budi. Andi berhasil, dan Budi menyalahi argumennya sendiri.

Baiklah, jika definisi harus membatasi dan membedakan, apa lagi syarat definisi yang baik? Kedua, definisi haruslah merujuk pada suatu benda lain di luar dirinya. Apakah benda itu nyata atau tidak, itu permasalahan nanti (di metafisika). Apa implikasi dari syarat definisi ini? Definisi yang baik tidak boleh sirkular.

Kita ambil contoh anjing dan kucing. Misalnya Andi bertanya pada Budi, “apa itu anjing?” Budi menjawab “anjing adalah sesuatu yang bukan kucing.” Definisi ini benar, anjing bukanlah kucing. Tetapi Andi masih penasaran, kucing itu apa. Kalau Andi tidak mampu mendefinisikan kucing, Andi tidak dapat mendefinisikan anjing. Karena definisi anjing bergantung pada definisi kucing. Andi lalu bertanya lagi, “apa itu kucing?” Dengan santainya Budi menjawab, “kucing adalah yang bukan anjing.” Andi pun geram lalu menampar Budi.

Contoh di atas adalah contoh definisi sirkular yang sederhana dan mungkin terlihat bodoh. Namun, pada beberapa hal, definisi sirkular dapat juga diamini oleh banyak manusia. Contohnya, ketika Andi bertanya pada Budi, “mengapa kitab sucimu benar?” Budi menjawab, “karena di dalam kitab suciku, tertulis bahwa kitab suci ini benar.” Andi kebingungan. Lalu ia bertanya lagi, “kenapa kalimat ‘kitab suci ini benar’ di dalam kitab sucimu benar?” Budi masih menjawab hal yang sama, dan Andi bertanya hal yang sama, dan seterusnya. Jika dituliskan dalam bentuk lain, pernyataan Budi adalah:Argumen sirkular

Di sini saya tidak bermaksud untuk menyalahkan kitab suci. Namun, poin pentingnya adalah menunjukkan bagaimana definisi sirkular gagal memberikan alasan yang cukup untuk menentukan definisi dari objek yang sedang didefinisikan.

Kita dapat menjawab pertanyaan Andi dengan jawaban, “kitab suciku benar karena isinya telah terbukti pada alam semesta, menuntun pada kebaikan, dan menjadi pegangan dasar hidup. Selain itu, kitab suciku benar karena diturunkan oleh Tuhan ke dunia ini sebagai pegangan manusia.” Definisi ini dapat dibenarkan karena definisi tersebut bersifat membedakan, membatasi, dan tidak sirkular (coba pikirkan kenapa).

Syarat definisi ketiga adalah korespondensi. Artinya, suatu definisi harus merujuk pada sesuatu dan sesuatu itu ada. Mungkin kamu langsung bertanya, bagaimana dengan definisi dari unicorn, naga, atau hujan uang? Ketiga objek tersebut tidak ada!

Saya akan meloncat dari penjelasan metafisika mengenai “ada” dan langsung mendefinisikan apa itu “ada” dari sudut pandang yang cocok dengan topik kali ini (definisi). Semua yang mungkin itu ada pada possible world-nya masing-masing. Oleh karena ada di possible world, maka kita bisa merujuk (korespondensi) “naga” pada naga yang asli dan nyata di possible world-nya. Apa itu possible world? Apa itu mungkin? Apa itu ada? Saya tidak menjelaskan dengan rinci, tetapi saya akan bahas beberapa.

“Hari Selasa depan mungkin turun hujan” adalah pernyataan yang tampak benar. Namun, bagaimana kita menjustifikasi kebenaran dari pernyataan tersebut? Hari ini hari Sabtu, pastinya hari Selasa depan belum terjadi. Tetapi, kita tahu bahwa pernyataan tersebut hanya kemungkinan saja, belum pasti. Secara intuitif, mungkin saja Selasa depan hujan. Bahkan, bisa jadi semua hari mungkin hujan.

Jika pernyataan “hari Selasa depan mungkin turun hujan” adalah benar, bagaimana kita membuat pernyataan itu menjadi benar? Saul Kripke memberikan solusi dari masalah ini. Dia berpendapat bahwa ada possible world di mana hari Selasa depan benar-benar turun hujan. “Kemungkinan” di sini dipandang sebagai kejadian yang terjadi di possible world. Sesuatu yang mungkin adalah sesuatu yang tidak menimbulkan kontradiksi, setidaknya kontradiksi secara logis, bukan fisik.

Misalnya konsep unicorn. Unicorn dipandang sebagai makhluk gabungan. Kuda biasa dengan tanduk. Kita tahu konsep tanduk dari sapi, badak (lebih tepat disebut sebagai cula), dan narwhall. Imajinasi kita dapat menggabungkan kedua konsep tersebut, dan jadilah unicorn. Hal yang sama berlaku pada naga (ular, kadal, sayap, terbang) dan hujan uang (hujan tetapi airnya diganti dengan uang yang turun dari langit). Lihat, semua benda yang tidak ada yang telah disebutkan sebelumnya dapat didefinisikan dengan baik dengan merujuk (korespondensi) benda asalnya.

Lalu apa yang tidak bisa dirujuk? Sesuatu yang tidak mungkin. Banyak filsuf berbeda pendapat mengenai ketidakmungkinan. Ketidakmungkinan sendiri banyak levelnya. Misalnya, 2 + 2 = 5 adalah ketidakmungkinan. Tapi apakah ada suatu possible world di mana pernyataan “2 + 2 = 5” bernilai benar? Sekali lagi, banyak filsuf berpendapat berbeda mengenai hal ini. Terlepas dari itu, ketiadaan adalah ketidakmungkinan paling absolut. Coba kamu definisikan ketiadaan!

Ruang kosong? Berarti ada dong ruang yang kosong. Ada konsep ruang dan ada konsep kosong!

Kosong? Tetap saja. Ada konsep kosong!

Ketiadaan? Maaf, sirkular mas…

Negasi dari semua yang ada? Sulit. Bisa jadi, tapi apa itu semua yang ada? Bagaimana cara menegasikan sesuatu yang tidak well defined? Ingat, kita saja berdebat mengenai apa itu ada. Lalu, definisi ada bergantung pada sesuatu yang mungkin, dan kemungkinan adalah bukan ketidakmungkinan, dan ketidakmungkinan adalah ketiadaan. Jadi definisi ada bergantung pada ketiadaan, dan kita tidak tahu apa itu ketiadaan.

Entahlah, ketiadaan memang aneh, dan mungkin akan saya bahas di lain waktu.


Kita telah sampai pada akhir tulisan. Marilah kita mengaplikasikan konsep definisi yang telah kita bahas.

“Air adalah H2O”

Definisi ini membedakan, membatasi, tidak sirkular, dan koresponden. Kenapa? Notasi kimia XY mengimplikasikan bahwa X dan Y terikat secara kovalen. Oleh karena itu, H2O adalah dua atom dan H dan satu atom O yang terikat secara kovalen. Bagaimana menyusunnya? Apakah H-H-O? Atau H-O-H? H-H-O tidak mungkin secara fisis karena hidrogen di tengah tidak memiliki elektron yang cukup untuk sekaligus mengikat kovalen atom oksigen dan hidrogen. Tapi masih kemungkinan secara fisis kan? Bukan logika? Betul. Namun, H2O pada umumnya dimaknai sebagai H-O-H (maka kita perlu mendefinisikan H2O juga). Definisi di atas juga merujuk pada molekul H2O yang eksis di dunia ini dan memang harus merujuk, secara eksternalisme semantik (lihat Putnam, 1975). Oleh karena itu, lebih baik jika ditulis begini

“Air yang ada di alam ini, adalah H2O”

Karena mungkin saja di possible world lain, air adalah XYZ, bukan H2O.


Sebagai penutup, jenis-jenis definisi ada banyak. Saya mengambil dari Copi et al. (2014) dalam bukunya Introduction to Logic. Definisi dapat dibagi menjadi lima kategori: stipulative, lexical, precising, theoretical, persuasive. Secara struktur, definisi juga dapat dibagi menjadi dua: extension dan intension. Selain itu, konten yang dituliskan di sini juga sebagian besar menyarikan dari Copi. Saya berharap bisa membahas definisi secara teknikal di tulisan kemudian hari. Mungkin sebagai pengantar logika. Semoga.

 

Catatan Kaki

1 Informasi mengenai jumlah kematian akibat kecanduan narkoba dapat dilihat di laman berikut: https://www.drugabuse.gov/related-topics/trends-statistics/overdose-death-rates

 

Referensi

Copi, IM, Cohen, C, McMahon, K. (2014). Introduction to Logic. London: Pearson Education

Putnam, H. (1975). The meaning of ‘meaning’. Minnesota Studies in the Philosophy of Science. 7:131-193. https://philpapers.org/rec/PUTTMO


Sumber gambar: https://smallbiztrends.com/2016/05/definition-of-solopreneur.html

Lihat seri sebelumnya di Chapter 0: Kembali Menjadi Kertas Kosong

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s