Pengantar Politik Post-truth

Pengantar Politik Post-truth

Berkembangnya media sosial memicu perubahan besar dalam bagaimana masyarakat mencari dan mencerna berita. Perubahan ini dipicu oleh jangkauan dan kecepatan perambatan berita dan informasi dalam media sosial, dan fakta bahwa semua orang dapat menjadi pembawa berita atau penulis dalam media sosial. Jika dibandingkan dengan media tradisional seperti televisi dan koran, yang publikasi beritanya biasanya hanya terbatas pada jam-jam atau waktu tertentu dalam sehari, informasi yang ditransmisikan lewat media sosial dapat tersebar dalam hitungan menit dari waktu saat suatu peristiwa terjadi. Selain itu, media sosial tidak mengenal batasan geografis. Seorang nelayan di Tanganyika dapat melihat langsung pernikahan seorang pedagang sapi di Tajikistan lewat YouTube, dan sekelompok anak TK di pelosok Purbalingga bisa menonton langsung final kompetisi CS:GO di Belgrade tanpa perlu bolos sekolah untuk pergi ke Serbia. Media sosial juga tidak mengenal siapa yang menulis suatu berita, dalam artian semua orang bisa menulis berita mengenai apa yang terjadi di sekitar mereka. Citizen journalism seperti ini menyebabkan jangkauan sosial media lebih besar daripada media tradisional, yang biasanya hanya memberitakan berita-berita yang dianggap penting karena waktu penyiaran atau ukuran kolom yang terbatas. Continue reading “Pengantar Politik Post-truth”

Post-Truth Era: Sebuah Pengantar

Post-Truth Era: Sebuah Pengantar

Sosial media kini telah menjadi sesuatu yang sangat lumrah dimiliki oleh tiap orang. Informasi dapat dengan mudahnya dipertukarkan, begitu juga keadaan di belahan dunia lain dapat diketahui dengan sekejap mata. Hal ini tentu merupakan sesuatu yang bagus untuk kesejahteraan umat manusia, pengetahuan dapat disebar dengan bebas, sehingga awareness manusia terhadap isu-isu sosial maupun sains lebih meningkat. Manusia dapat lebih bijak dalam menanggapi sesuatu karena ragamnya informasi yang ada. Seorang yang ignorant dan intolerant pada ideologi tertentu dapat lebih terbuka pikirannya, karena dalam sosial media (dan internet pada umumnya), mereka saling bertemu—antara dua kubu yang saling berlawanan dapat berkomunikasi dan bertukar pikiran—dan setidaknya, antara dua kubu ekstrem dapat saling mengetahui konsep ideologi masing-masing. Namun, dunia nyata tidaklah seindah itu… Continue reading “Post-Truth Era: Sebuah Pengantar”

Sosial Media: Surveillance dan Privasi (Bagian II–Surveillance)

Sosial Media: Surveillance dan Privasi (Bagian II–Surveillance)

Mengapa Surveillance itu Buruk? Dan Apa itu Survelliance?

Untuk menarik benang merah antara sosial media dan surveillance, kita harus dapat mendefinisikan surveillance sosial media yang benar-benar dapat menjelaskan ‘pengintaian’ privasi melalui sosial yang it works. Banyak definisi mengenai surveillance lebih menekankan kepada proses pengumpulan informasi dan pengolahannya, dan pada sisi lain, surveillance juga dapat didefinisikan sebagai proses untuk membentuk perilaku yang diinginkan oleh  pengintai (pemerintah, lembaga intelijen) seperti mengontrol, memerintah, menggerakkan, mengubah opini dan kepercayaan umum, dan memengaruhi masyarakat (Fuchs, 2011). Continue reading “Sosial Media: Surveillance dan Privasi (Bagian II–Surveillance)”

Sosial Media: Surveillance dan Privasi (Bagian I: Sosial Media)

Sosial Media: Surveillance dan Privasi (Bagian I: Sosial Media)

Mengapa Sosial Media Tidak Bisa Terlepas Dari Masyarakat

Pertanyaan yang belakangan ini sering muncul ke permukaan adalah, mengapa sosial media tidak bisa lepas dari masyarakat sekarang?  Sudah tidak dapat dibantah lagi pernyataan bahwa “Knowledge is Power” atau “Ilmu pengetahuan adalah kekuatan”, dan tidak pula bisa dibantah bahwa kini sosial media adalah sebuah sumber yang tidak terbatas bagi ilmu pengetahuan. Layaknya kebutuhan manusia terhadap ilmu pengetahuan, sosial media juga telah menjadi kebutuhan pokok bagi masyarakat. Continue reading “Sosial Media: Surveillance dan Privasi (Bagian I: Sosial Media)”

Sosial Media: Surveillance dan Privasi (Pengantar)

Sosial Media: Surveillance dan Privasi (Pengantar)

Dalam beberapa tahun terakhir, sosial media telah menjadi barang yang lumrah untuk dimiliki oleh tiap orang. Mereka menggunakannya untuk sekedar mengobrol dengan teman, berdiskusi tentang tugas kuliah, berdebat mengenai agama mana yang paling benar, sampai promosi partai politik dan ajakan untuk menjadi anggota baru suatu komunitas pecinta sandal jepit. Ya, sosial media menjadi barang yang tak lagi mewah, ia begitu dekat dengan kehidupan kita, begitu juga implikasi yang ia timbulkan. Keuntungan dan kerugian selalu menjadi pasutri (pasangan suami istri) yang pasti menemani tiap fenomena di sejarah umat manusia, begitu juga sosial media tak terlepas dari dua sejoli tersebut. Manakah yang lebih prominen di antara keduanya? Continue reading “Sosial Media: Surveillance dan Privasi (Pengantar)”

Tentang Akal, Sauvinisme Manusia, dan Evolusi

Tentang Akal, Sauvinisme Manusia, dan Evolusi

Akal (cognition) dapat dikatakan sebagai kunci sukses manusia dalam bertahan hidup di dunia. Akal membantu manusia awal survive di sabana Afrika, mendorong individu-individu awal untuk membuat peralatan-peralatan batu sederhana untuk berburu binatang buas era Pleistosen sebelum akhirnya berpencar ke segala penjuru Bumi. Kontrak sosial, yaitu sebuah kontrak antar individu untuk ‘menyerahkan’ (forefit) beberapa hak-hak mereka sebagai ganti dari proteksi dan berbagai keuntungan yang ditawarkan oleh asosiasi antar individu tersebut [1], terbentuk. Kontrak sosial sederhana berkembang menjadi kebudayaan-kebudayaan kompleks awal, yang setelah diperkuat dengan ditemukannya metode penyimpanan informasi berupa tulisan, berubah menjadi kebudayaankompleks modern seperti yang kita lihat sekarang. Continue reading “Tentang Akal, Sauvinisme Manusia, dan Evolusi”