Paradoks Gagak

Paradoks Gagak

Sains menjadi pemicu dan pemacu utama dalam perkembangan peradaban dunia. Pertumbuhan teknologi yang sangat pesat merupakan salah satu dari efek samping dari perkembangan sains yang melesat, mengantarkan kita pada pengetahuan-pengetahuan baru yang tak terduga sebelumnya. Cara pandang kita terhadap dunia sudah sangat berbeda dengan cara pandang manusia ribuan tahun silam. Kini kita tidak merasa aneh dengan adanya zarah kecil penyusun berbagai benda. Kita juga tidak terheran-heran bahwa bintang-bintang indah bertaburan di langit malam adalah bintang jutaan tahun yang lalu. Beberapa dari mereka mungkin sudah tidak bersinar lagi, mati dan dingin. Kita tidak lagi memandang bahwa makhluk hidup yang kompleks berasal dari ketiadaan secara tiba-tiba, tetapi pahatan lambat selama jutaan tahun hasil mahakarya alam. Sains telah merevolusi cara berpikir dan konsep-konsep usang yang turun temurun dirawat. Semua pengetahuan tersebut didapatkan sains dengan jalan menginvestigasi alam, mencari pola, merumuskan hipotesis, mengujinya, dan pada akhirnya menjadi teori saintifik yang established. Continue reading “Paradoks Gagak”

Iklan

Pendidikan, Masyarakat, dan Filsafat

Pendidikan, Masyarakat, dan Filsafat

Pendidikan telah menjadi kebutuhan dasar manusia sejak lahir. Apa yang dimaksud dengan “pendidikan” di sini bukanlah hanya pendidikan formal di sekolah, membaca buku, mengikuti seminar, dan lain sebagainya. Pendidikan di sini saya maknai sebagai kegiatan belajar. Manusia mengalami proses belajar, dan manusia tidak sendirian. Berbagai hewan juga melakukan proses belajar pada tingkatnya masing-masing. Etologi adalah ilmu yang mempelajari tentang perilaku hewan secara objektif pada keadaan alaminya, dan memandang perilaku sebagai sifat adaptasi evolusioner. Ada banyak jenis proses belajar pada etologi, salah satunya adalah imprinting. Continue reading “Pendidikan, Masyarakat, dan Filsafat”

Pengantar Politik Post-truth

Pengantar Politik Post-truth

Berkembangnya media sosial memicu perubahan besar dalam bagaimana masyarakat mencari dan mencerna berita. Perubahan ini dipicu oleh jangkauan dan kecepatan perambatan berita dan informasi dalam media sosial, dan fakta bahwa semua orang dapat menjadi pembawa berita atau penulis dalam media sosial. Jika dibandingkan dengan media tradisional seperti televisi dan koran, yang publikasi beritanya biasanya hanya terbatas pada jam-jam atau waktu tertentu dalam sehari, informasi yang ditransmisikan lewat media sosial dapat tersebar dalam hitungan menit dari waktu saat suatu peristiwa terjadi. Selain itu, media sosial tidak mengenal batasan geografis. Seorang nelayan di Tanganyika dapat melihat langsung pernikahan seorang pedagang sapi di Tajikistan lewat YouTube, dan sekelompok anak TK di pelosok Purbalingga bisa menonton langsung final kompetisi CS:GO di Belgrade tanpa perlu bolos sekolah untuk pergi ke Serbia. Media sosial juga tidak mengenal siapa yang menulis suatu berita, dalam artian semua orang bisa menulis berita mengenai apa yang terjadi di sekitar mereka. Citizen journalism seperti ini menyebabkan jangkauan sosial media lebih besar daripada media tradisional, yang biasanya hanya memberitakan berita-berita yang dianggap penting karena waktu penyiaran atau ukuran kolom yang terbatas. Continue reading “Pengantar Politik Post-truth”