Sebelum Menjawab Apa itu Filsafat, Kita Perlu Menjawab “Apa itu”: Sebuah Pengantar Mengenai Definisi dari Definisi

Sebelum Menjawab Apa itu Filsafat, Kita Perlu Menjawab “Apa itu”: Sebuah Pengantar Mengenai Definisi dari Definisi

Tulisan ini adalah bagian dari “Seri Pengantar Filsafat untuk Pemula “Membumikan Filsafat” — Chapter 01: Sebelum Menjawab Apa itu Filsafat, Kita Perlu Menjawab “Apa itu”: Sebuah Pengantar Mengenai Definisi dari Definisi”

Banyak pertanyaan yang ditanyakan tetapi sedikit jawaban yang memuaskan. Tak memuaskan di sini memiliki artian bahwa jawaban dari pertanyaan-pertanyaan tersebut melenceng dari maksud yang ditanyakan di dalam pertanyaan, atau tidak memberikan informasi yang cukup untuk membedakan jawaban antara pertanyaan yang sedang ditanyakan (misalnya pertanyaan A) dengan pertanyaan lain (misalnya pertanyaan B), sehingga jawaban dari pertanyaan A tidak memiliki sifat kekhasan yang membedakannya dari pertanyaan B, sehingga tidak ada pengetahuan baru yang didapat, atau bahkan terdapat kesalahan fatal dari pengetahuan yang didapat dari jawaban pertanyaan dengan karakteristik deskripsi di atas. Continue reading “Sebelum Menjawab Apa itu Filsafat, Kita Perlu Menjawab “Apa itu”: Sebuah Pengantar Mengenai Definisi dari Definisi”

Iklan

Kembali Menjadi Kertas Kosong

Kembali Menjadi Kertas Kosong

 

Tulisan ini adalah bagian dari “Seri Pengantar Filsafat untuk Pemula “Membumikan Filsafat” — Chapter 00: Kembali Menjadi Kertas Kosong”


Sebenarnya saya dulu selalu ingin menulis esai-esai filsafat untuk awam sehingga mereka pun bisa memetik manfaat dari filsafat. Selain karena filsafat dipandang negatif dalam masyarakat, alasanku menulis seri ini juga dipicu epidemi kebodohan yang terus menyebar lebih cepat dari virus ebola, dan lebih parah dari wabah black death. Mungkin ini wabah black death kedua. Ya, siapa tahu.

Kurangnya literatur filsafat dalam Bahasa Indonesia menjadi salah satu sebab kenapa ilmu ini (atau bukan ilmu) tidak sepopuler ilmu sains atau politik atau menggambar. Namun, di era teknologi serba digital dan semua tersedia di ujung jari bukan menjadi alasan untuk tidak belajar. Tentu saja. Tapi bagaimana jika in the first place, tidak ada niatan untuk mempelajari filsafat, atau bahkan menolak dan mengharamkannya? Masalah ini pernah saya temui di kehidupan sehari. Sentimen sesat dan menyesatkan, jadi ateis, jadi kafir, bisa gila, dan lain sebagainya disematkan pada ilmu ini (atau bukan ilmu). Continue reading “Kembali Menjadi Kertas Kosong”

Di Kala Anda Menanak Nasi

Di Kala Anda Menanak Nasi

Ketika Adit memasak nasi, aku teringat dengan pesan ibu untuk tidak menyalakan televisi meskipun hari telah malam. Bukan perkara gampang untuk melaksanakan perintah ibu, apalagi keadaan uang sedang tidak menentu, air keran mampat, dan kecepatan internet naik turun. Adik sama pula, dia sering membolos sekolah. Umm… aku dulu juga pernah bolos sekolah sih, hehe. Tetapi, begini-begini aku pernah mempelajari luas taman kota Bandung yang berkorelasi dengan tingkat kriminalitas desa Wisanggeni. Itu kata seminar di universitas terkemuka tahun lalu. Aku sendiri tidak mengerti ketika Bu Ani, dosen mata kuliah etnografi, menjelaskan pengaruh taman kota dan budaya literasi di Indonesia. Kita memang perlu banyak buku, tetapi kemauan membaca lebih penting. Ajarkan anak untuk senang membaca meskipun mereka telat makan nasi, Bapak, Ibu. Nasi bukan segalanya, tahu tidak? Kita bisa makan roti, jagung, ubi, atau kentang. Ubi direbus, jagung dibakar, kentang dapat digiling. Pengolahan makanan yang nikmat membuat anak semakin lahap. Tidak perlu suplemen, toh. Suplemen mahal. Terakhir aku beli di apotek seharga dua kilo daging sapi impor berwarna merah dengan identitas berupa etiket tenderloin, terpasang rapi di bawah rak lemari supermarket. Kirana memang pandai memasak steak tenderloin. Lihai dan cekatan di dapur, tetapi juga memuaskan di kamar. Tenang saja, Bapak, Ibu. Kirana itu nama istriku. Aku bertemu dengan Kirana di sebuah perhelatan akbar di bilangan Gading Serpong dan Gading Gajah. Tepatnya di gedung serbaguna, ketika pameran buku dilaksanakan, Kirana memandangi Das Kapital. Aduhai, cantik dan progresif. Nikmat mana yang kamu dustakan, Bapak, Ibu. Langsung saja Kirana aku lamar, meski cukup susah, lantaran ayah Kirana suka bertanya tidak jelas kepadaku ketika aku melamar Kirana a la wawancara oleh HRD, begitu. CV tidak lupa aku bawa. Pengalaman organisasi jangan ditanya, Bapak, Ibu. Menjadi presiden BEM kampus tentu membanggakan. Aku juga pernah memimpin prosesi doa bersama saat jamuan hari raya Idulfitri di rumah Pak Rektor. Lumayan lah, makan gratis. Dapat sertifikat pula, warnanya kuning. Ketika Rom melukis senja, aku kelupaan membawa cat kuning, akhirnya Rom menggunakan sertifikatku tadi. Dia mencampurnya dengan cairan khusus pelarut tinta printer epson. Lima hari kemudian, Rom merampungkan lukisannya. Indah sekali, bagai mentari yang tergelincir kala senja menyambut, burung-burung terbang bergantian menyisiri awan kumulus yang bermuka masam. Hujan pasti datang, pikirku. Naas, jemuranku belum aku ambil. Aduh biyung, besok ada upacara kemerdekaan. Bagaimana jika seragamku basa? Apalagi aku terpilih menjadi pemandu acara. Ini tidak bisa dibiarkan. Hujan bukan halangan. Pakaian bisa meminjam. Itu lah moto aku. Praktis, bukan? Sekarang masalahnya, meminjam pada siapa? Aku tertegun selama satu jam memikirkan itu sebelum akhirnya kebingungan sendiri dan memutuskan untuk membeli susu beserta kopi hitam demi pemenuhan hasrat dan nafsu. Kopi dapat mencairkan pikiran, katanya begitu. Dengan sepeda aku bergegas ke supermarket. Tapi, supermarket yang mana? Aku benar-benar kebingungan. Ini menjadi masalah, Bapak, Ibu. Jarak antar dua supermarket terlalu dekat. Seperti jarak antara dua garis singgung dalam lingkaran dan elips. Persamaannya aku kurang tahu, tetapi teman saya tahu. Dia juara OSN Matematika. Namanya Adit. Sekarang, nasi sudah matang.


Sumber gambar: http://bsnscb.com/rice-wallpapers/38715496.html

Hampir Telat Ngampus

Hampir Telat Ngampus

Seorang kakek mendadak menyapaku. Aku belum sempat menyeruput es kopi yang sedang kupegang dengan tangan kanan. Begitu pula dengan pesan masuk yang sudah lima belas menit belum dibuka.

“Ingatkah kamu dengan peristiwa lima puluh tahun silam?”

Sekarang kakek itu berbicara. Aku tidak merasa sedang diajak mengobrol olehnya, tetapi fakta bahwa hanya aku seorang di taman ini membuatku meminum empat teguk es kopi. Continue reading “Hampir Telat Ngampus”

Cara Menghajar Kaum Skeptis à la G. E. Moore, Pembuktian Eksistensi External World, Eksternalisme Semantik, dan Balas Dendam Kaum Skeptis

Cara Menghajar Kaum Skeptis à la G. E. Moore, Pembuktian Eksistensi External World, Eksternalisme Semantik, dan Balas Dendam Kaum Skeptis

Artikel dapat dibaca di Laman LSF Cogito: http://lsfcogito.org/cara-menghajar-kaum-skeptis-la-george-edward-moore/

Continue reading “Cara Menghajar Kaum Skeptis à la G. E. Moore, Pembuktian Eksistensi External World, Eksternalisme Semantik, dan Balas Dendam Kaum Skeptis”